Sunday, December 29, 2013

Judul Yang di tonton di bioskop periode 2013


Judul Yang di tonton di bioskop periode 2013
No
Bulan
Judul
1
Januari
Parental Gudance
2

The impossible
3

Les  meserable
4

Chinese Zodiak
5

Hansel & gretel



6
Februari
Die hard 5



7
Maret
The giat slayer 3D
8

Adm bodies
9

Broken City
10

Olympus has fallen



11
April
The cloud atlas
12

The Hot
13

Oblivion
14

Iron man 3
15

9 summer 10 autumns



16
May
Epic 3D
17

Star trek



18
juni
Fast  And  furious 6
19

Rafter earth
20

Pan of Steel
21

World war Z
22

Monster university



23
Juli
White house Don w
24

The conjuring
24

Pasific rim 3D



26
Agustus
Moral instument
27

Elysium
28

The Way
29

Ripd



30
September
Frozen ground
31

Riddick



32
Oktober
Rush
33

Prioners
34

Grafit
35

Escape plan



36
November
Hunger Games 2
37

Frozen
38

Home Front
39

Sokola Rimba



40
Desember
Theconselor
41

99 Cahaya dilangit Eropa
42

The Hobbit
43

Tengelamnya kapal van Der wijk
44

Laskar Pelangi “Edensor”
45

47 Ronin

Disepanjang 2013 flim yang di tonton sebanyak 45 flim. Semua flim yang ditonton dilakukan di bioskop nah kalau 45 flim dengan rata-rata Rp.35.000,- maka untuk kenonton saja di keluarkan dana Rp. 1.575.000,- tapi didalam catatan flim yang saya tonton ini kita akan bahas flim terbaik menurut versi saya. Dalam katagorinya flim ini akan di bagi dalam 3 Katagori saja: 1. Flim asing 2. Flim Animasi dan 3. Flim Indonesia. Setiap kategori hanya ada flim terbaik 1,2 dan 3.

Flim Asing Terbaik
1.       Olympus has fallen
2.       White house Don w
3.       Les  meserable
Flim Animasi Terbaik
1.       Epic
2.       Frozen
3.       Monster universitas
Flim Indonesia terbaik
1.       Tengelamnya kapal van Der wijk
2.       99 Cahaya dilangit Eropa
3.       9 summer 10 autumns

Wednesday, December 11, 2013

SOKOLA RIMBA

SOKOLA RIMBA
BUTET MANURUNG
KOMPAS MEDIA NUSANTARA  MEI 2013

Buku ini sebenarnya sudah terbit 2007 yang diterbitkan Insistpres Yogyakarta. Rilis kembali untuk memenuhi permintaan pasar.
Resensi buku Sokola rimba ini dilakukan setelah menonton flimnya. Walaupun secara visualisasi flimnya sangat jauh mengambarkan bukunya. Tapi kita tidak akan membahas buku yang  di flimkan atau flim yang di bukukan karena sekmen peminatnya pasti berbeda. Walaupun pada prinsipnya saya sangat kecewa dengan flimnya. Karena saya peminat keduanya. Oke STOP.

Apa sebenarnya di cari seorang wanita keturunan Batak ini?, ketika Ia mengambil sebuah pekerjaan sebagai guru untuk anak-anak rimba? Walaupun latar belakangnya pendidikannya seorang  Antropolog. Bagi saya dia adalah guru sejati di luar batas naluri manusia yang mencari kenyamanan. Buku ini merupakan catatan atau bisa dikatakan curahan hati Butet Manurung selama mengajar anak-anak rimba di bukit 12 Jambi, walaupun didalamnya terdapat keluh kesah tapi kalau dipersentasikan hanya 20% jauh dari kesan sentimentil wanita yang pergi kesalon.

Saturday, November 9, 2013

Bahan Ajar Biologi Sel


Bahan ajar memiliki fungsi strategis bagi proses belajar mengajar sebagai salah satu pendukung pembelajaran yang lebih mandiri oleh mahasiswa. Ia dapat membantu dosen dan mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran, sehinggan guru tidak terlalu banyak menyajikan materi dan sumber segala pengetahuan, dengan adanya bahan ajar pendukung diharapkan fungsi dosen sebagai sumber segala pengatahuan bergeser menjadi sebagai fasilitator perkuliahan.
Harapanya mahasiswa dapat mengurangi ketergantungan terhadap dosen dan jejaring internet berupa blog dan membiasakan belajar mandiri, dan mecapai prinsip belajar sepanjang hayat (life long education).             Bahan ajar adalah berbeda dengan buku teks. Bahan ajar yang baik dirancang sesuai dengan Silabus dan satuan acara perkuliahan. Perkuliahan di Universitas Negeri Medan untuk tahun ajaran 2013/2014 hanya tinggal 5 pertemuan lagi, sebelum menghadapi ujian final. ini merubahan bahan tambahan untuk menghadapi ujian final. sila di download untuk menambah literatur.

Bahan ajar Biologi Sel
Download Bab I
Download Bab II
Download Bab III
Download Bab IV
Download Bab V

Tuesday, October 22, 2013

KOMPETISI MERAIH YANG TERBAIK DENGAN KERJA KELOMPOK


Kalau kita mendegar kata kompetisi tentu sebuah perhelatan olah raga : main bola, balap mobil atau hal yang berbau negatif. Kompetisi terkadang membuat orang menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan. Tapi tidak itu yang terjadi di kelas 4  SDN 101775 Sampali.

Jadi kompetisi apa? Kompetisi menjadi siswa terbaik dengan kerja kelompok yang rancang oleh guru-guru praktek pembelajaran aktif kreatif dan menyenangkan “PAKEM” Usaid Prioritas Sumatera Utara tanggal 19 Oktober 2013. Pembelajaran IPA hari itu berbeda dari biasanya, posisi duduk yang biasanya berbaris sejajar diubah oleh para guru yang akan berpraktek dengan membentuk kelompok-kelompok kecil dengan menggabungkan 2 meja. Para siswa pun mulai riuh dengan suara-suara kebingungan ‘kesan pertama yang begitu berbeda tentunya” kemudian sang guru memanjangkan medianya mengolongkan hewan berdasarkan makanannya di papan tulis. Dan melekatkan lembar kerja disebelahnya.

Guru Membuka Jawaban
Kemudian siswa diminta untuk memilih hewan dari gambar di depan dan menuliskannya di kertas Post-it yang beraneka warna, termasuk hewan pemakan apakah dia, Pemakan tumbuhan, pemakan hewan, pemakan hewan dan tumbuhan atau  pemakan insekta?, para siswa pun antusias untuk menuliskan nama-nama hewan yang mereka liat di gambar dan menuliskan di kerta Post-it dan melekatkannya di lembar kerja di papan tulis.

Tebak Menebak Yang Membuat Penasaran
Selanjutnya setelah semua hewan tercatat, semua guru meminta siswa menebak hewan pemakan tumbuhan disebut apa ?...Kelompok siswa mulai berdiskusi dan memikirkan jawaban, setiap kelompok diberi kesempatan untuk menebak apakah nama hewan yang telah mereka lengketkan tadi termasuk kelompok herbivora, karnivora, omnivora atau insectivora? Setiap kelompok sangat antusias berdiskusi. Jika ada kelompok yang menjawab benar dari pertanyaan maka guru akan membuka lembar jawaban.

Kompetisi yang Efektif dan Sportif

Kompetisi pemanasan sudah dimulai tadi dalam penentuan nama hewan pemakan tumbuhan termasuk herbivora dll. Kompetisi kedua membuat pertarungan kelompok makin memanas, yang membuat saya terkagum mengamatinya adalah kompetisi yang dilakukan anak-anak ini sangat sportif jauh dari hal-hal curang yang sering kita lihat di lingkungan orang dewasa. Dalam hati inilah calon-calon penjaga sportivitas negara kita. Amin.
Berdiskusi Sebelum Mengelompokkan

Guru kreatif membagikan foto-foto hewan dari berbagai jenis dan memberi lembar kerja bagi setiap kelompok. Kemudian guru menugaskan setiap kelompok untuk berkompetisi untuk mengelompokkan semua hewan dan menggolongkan jenis makanannya. Kompetisi berjalan sangat efektif dimana tiap-tiap kelompok memunculkan ide-ide baru diluar dugaan saya sebagai pengamat. Ada kelompok yang memunculkan pemimpin kelompok, yang secara tiba-tiba membagi tugas teman-temannya. Ada yang setiap anggotanya punya inisiatif masing-masing terhadap tugas yang mereka lakukan ada kelompok yang semberautan melakukan kerja kelompok walaupun masih dalam tataran sportivitas. Dan yang paling membangkan ada kelompok yang berdiskusi terlebih dahulu memilah hewan dulu kemudian melekatkanya dilembar kerja. Sebuah variasi dan keanekaragaman ide dan perbedaan yang sangat indah ditampilkan anak-anak SDN 101775 Sampali, begitu polos dan bersahaja.

Antusias yang Harus Dijaga
Kompetisi tersebut di tutup manis oleh sang guru dengan memajang hasil karya setiap kelompok di depan kelas. Kemudian setiap kelompok diminta untuk mengoreksi pekerjaan kelompok lain. Mereka sangat antusias memberikan masukan terhadap lembar kerja kelompok lain, kelompok yang diberikan masukkan juga tidak kalah antusiasnya memberikan argumen kenapa hewan-hewan tersebut dikelompokkan kekatagori tersebut, sebuah permainan peran yang sempurna.


Sesi wawancara yang saya lakukan terhadap guru setelah hasil praktek adalah:

H                      : Bagaimana perasaan ibu setelah menerapkan pembelajaran “PAKEM” ?

Guru                 : Begitu lelah Pak “dengan senyum simpul”

H                      : Lelah, apa yang ibu rasakan?

Guru                :  Baru kali ini saya menemukan siswa yang antusias belajar, semangat.
                          Benar dan salah jawaban siswa belakangan, tugas guru Lah yang meluruskannya

H                     :  Lelah ibu terbayar kalau begitu !

Guru            : pasti iya Pak, sempat khawatir apakah pembelajaran ini akan berhasil, apakah siswa merespon atau tidak. Tapi belajar 2 jam tadi tidak terasa, saya berasa jadi guru yang sebenarnya.

H                     : jadi selama ini belum jadi guru sebenarnya dong Buk?

Guru                : hahahahahah (tertawa lebar), kalau dulu ya ceramah, kasih tugas di nilai itu ajak Pak

H                     : hahahah “Ketawa juga” Bener-benar

Dan hari itu praktek dikelas 4 SDN 101775 Sampali, di tutup dengan momen termanis yang sayang dengar, ibu-ibu panggil anak-anak, iya jawab sang ibu guru dengan lembut. Kapan ibu mengajar lagi. Ibu guru itu memegang kepala beberapa anak dan senyum haru dan berlalu pergi. Apa yang paling indah saat kita menjadi seorang guru ialah Ketika kehadiran kita mereka rindukan itulah sejatinya :guru profesional”.



Disarikan oleh: halim simatupang

Monday, October 21, 2013

BELAJAR MEMBACA “TIDAK LAGI INI BUDI,INI IBU BUDI,dan INI BAPAK BUDI”


Ibu Eva Rahmayani Guru Madrasah Ibtidaiyah Madinatussalam Medan ini membuat gebrakan baru ketika melakukan praktek mengajar Penerapan Pembelajaran Aktif Kreatif Menyenangkan “PAKEM” yang dilaksanakan oleh USAID PRIORITAS Sumatera Utara Pada tanggal 19 Okotober 2013.
Kita tentu masih ingat ketika menempuh pendidikan di sekolah dasar dulu, kita selalu disuguhkan belajar mengenal huruf dan menulis dengan jargon “ini Ibu Budi, ini Bapak Budi”.

Siswa Memilih Kartu Huruf


Atau gurunya sudah menganggap siswa kelas 1 semua sudah pandai membaca dan langsung babat habis dengan menyuruh kita mengeja huruf-huruf dengan pengalan-pengalan kata misalnya: ma-kan, ti-dur, Ka-la-h. Ada juga guru yang menganggap bahwa semua siswa tidak pandai membaca dengan mengajari anak menulis huruf a, b, c ,d dan seterusnya. Atau mengulang mengeja huruf-huruf dan bahkan ada yang menghafalnya. Ini tentu menghilangkan pembelajaran tingkat Sekolah Dasar yang harus konkret, artinya harus nyata, dapat dilihat dan dirasakan oleh peserta didik.

Apa yang dilakukan Ibu Eva Rahmayani tentunya sebuah inovasi yang sangat baik, buat oase pendidikan kita sekarang haus akan figur-figur guru seperti beliau. Pengenalan huruf yang dilakukan ibu Eva yaitu dengan tema “Diri Sendiri” Ibu Eva membuat gambar bagian-bagian tubuh dan menuliskan namanya. Kemudian Ibu Eva membuat lagi potongan-potongan huruf bagian tubuh tersebut menjadi satu bagian-bagian kecil yang berisi huruf 1 huruf. Selanjutnya siswa diminta untuk memberi nama bagian-bagian tubuh tesebut dengan memilih huruf-huruf yang sudah di tulis dan diletakkan dimeja. Siswa tinggal memilih dan melekatkannya.

Siswa Melekatkan Kartu Huruf di Papan Tulis
Antusias Yang Menggembirakan
Apa yang terjadi di kelas Ibu Eva?
Tentu itu pertanyaan yang mencuat selanjutnya, dari pengamatan yang saya lakukan kelas menjadi semarak, meriah ribut. Wah sangat-sangat menggembirakan.
Pertanyaan berikutnya kenapa ribut dibiarkan?.

Tentu sekolah dasar harus ribut, kalau tidak ribut itu namanya sekolah para orang dewasa, tapi sebagai guru SD bagaimana kita mengelola ribut anak-anak menjadi ribut yang bernilai belajar, bernilai motivasi dan antusias. Dengan semangat yang dilakukan oleh ibu Eva, 2 jam mengajar pun lewat dengan pengalaman yang mengasikkan dan atuasias yang tak terlupakan oleh siswa-siswi SDN 101775 Sampali.

Menurut Ibu Eva Rahmayani, menggunakan media kartu-kartu huruf awalnya sempat ragu, apakah siswa mau disuruh ke depan, apakah siswa mengenal huruf yang akan dipilih, banyak pertanyaan yang berkecamuk. Namun, niat yang tulus dan usaha yang maksimal terbayar sudah dengan bangga Ibu Eva mengatakan hasil Mengajar hari ini.

“ Alhamdullillah sukses.
“ anak-anak yang saya ajar, saya tidak menyangka sangat antusias
“malah mereka berebut untuk memilih huruf-huruf untuk ditempelkan”
Sekarang tidak tidak ada lagi belajar mengenal huruf dan membaca dengan cari ini budi, ini ibu budi dan ini bapak budi, tidak ada lagi belajar membaca mengeja memenggal kata.
Kita tidak akan temukan lagi siswa yang dipanggil ke depan dia tidak mau atau tidak berani, jika kita membuat inovasi dan masuk kedunia mereka yang indah yaitu dunia anak-anak “dunia bermain”.

Diliput Oleh: Halim Simatupang