Tuesday, December 11, 2007

Teori Belajar Kognitif

Teori Belajar Kognitif Aplikasi dalam Matematika
Teori Belajar Kognitif Aplikasinya Dalam
Pembelajaran Matematika
By: Halim Simatupang
(Mahasiswa Pasca Sarjana UNIMED)
PENDAHULUAN
Belajar diangap sebagai proses perubahan perilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan di dalam laboratorium maupun di dalam lingkungan alamiah. (Sanjaya,2006). Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan prilaku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang disadari.
Banyak teori yang membahas tentang terjadinya perubahan tingkah laku. Namun, demikian, setiap teori itu berangkat dari pandangan tentang hakikat manusia, yaitu hakikat manusia menurut pandangan Jhon locke dan hakikat manusia menurut Leibnitz.
Menurut Jhon locke, manusia itu merupakan organisme yang pasif. Dengan teori tabularasanya, locke menggangap bahwa manusia itu kertas putih, hendak ditulisi apa kertas itu sangat tergantung pada orang yang menulisnya. Dari pandangan yang mendasar tentang hakikat manusia itu, memunculkan aliran belajar behavioristik-elementeristik. Berbeda pandang dengan locke, Leibnitz menganggap bahwa manusia adalah organisme yang aktif. Manusia adalah sumber daripada semua kegiatan. Pada hakikatnya manusia bebas untuk berbuat, manusia bebas untuk membuat suatu pilihan dalam setiap situasi. Titik pusat kebebasan ini adalah kesadarannya sendiri. Menurut aliran ini tingkah laku manusia hanyalah eksperesi yang dapat diamati sebagai akibat dari eksistensi internal yang pada hakikatnya bersifat pribadi. Pandangan hakikat manusia menurut pandangan Leibnitz ini kemudian melahirkan aliran belajar kognitif-holistik.
Berangkat dari konsep manusia yang berbeda, dalam menjelaskan terjadinya perilaku, kedua aliran teori belajar, yaitu aliran belajar behavioristik-elementeristik dan aliran kognitif-holostik, memiliki perbedaan pula. Perbedaan keduanya seperti dapat dilihat dari pada table dibawah ini.
Aliran Behavioristik-elementeristik
Aliran Kognitif-holostik
Memeningkan pengaruh lingkungan
Mementingkan apa yang ada dalam diri
Mementingkan bagian-bagian
Mementingkan keseluruhan
Mengutamakan peran reaksi
Mengutamakan fungsi kognitif
Hasil belajar terbentuk secara mekanis
Terjadinya keseimbangan dalam diri
Dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu
Tergantung pada kondisi saat ini
Mementingkan pembentukan kebiasaan
Mementingkan terbentuknya struktur kognitif
Memecahkan masalah dilingkungan dengan cara trial end eror
Memecahkan masalah berdasarkan kepada insight
Dari uraian diatas terdapat perbedaan mencolok antara aliran belajar behavioristik-elementeristik dan aliran kognitif-holostik berikut akan dibahas tentang aliran belajar kognitif-holistik, menurut teori belajar menurut gestalt, Bruner, Piaget.
PEMBAHASAN
1. Teori Belajar Gestalt
Psikologi gestalt dikembangkan di Eropa pada sekitar tahun 1920-an. Psikologi gestalt memperkenalkan suatu pendekatan belajar yang berbeda secara mendasar dengan teori asosiasi (behaviorism). Teori gestalt dibangun dari data hasil eksperimen yang sebelumnya belum dapat dijelaskan oleh ahli-ahli teori asosiasi. Meskipun pada awalnya psikologi gestalt hanya dipusatkan pada fenomena yang dapat dirasa, tetapi pada akhirnya difokuskan pada fenomena yang lebih umum, yaitu hakikat belajar dan pemecahan masalah.
Berpikir sebagai fenomena dalam cara manusia belajar, diakui oleh para ahli psikologi gestalt sebagai sesuatu yang penting. Menurut Kohler berpikir bukan hanya proses pengkaitan antara stimulus dan respon, tetapi lebih dari itu yaitu sebagai pengenalan sensasi atau masalah secara keseluruhan yang terorganisir menurut prinsip tertentu. Katona, seorang ahli psikologi gestalt yang lain, juga tidak sependapat dengan belajar dengan pengkaitan stimulus dan respon. Berdasarkan hasil penelitiannya ia membuktikan bahwa belajar bukan hanya mengingat sekumpulan prosedur, melainkan juga menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana.
Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk menginterpretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpisah-pisah.
Parapengikut gestalt berpendapat bahwa sensasi atau informasi harus dipandang secara menyeluruh, karena bila dipersepsi secara terpisah atau bagian demi bagian maka strukturnya tidak jelas. Menurut Katona penemuan struktur terhadap sensasi atau informasi diperlukan untuk dapat memahaminya dengan tepat.
Jadi, menurut pandangan psikologi gestalt dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami.
1.1.Implementasi Pandangan Gestalt terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pembelajaran Matematika
Menurut pandangan penganut psikologi gestalt, persepsi manusia tidak hanya sebagai kumpulan stimulus yang berpengaruh langsung terhadap pikiran. Pikiran manusia menginterpretasikan semua sensasi/informasi. Sensasi/informasi yang masuk dalam pikiran seseorang selalu dipandang memiliki prinsip pengorganisasian/struktur tertentu. Artinya, pengenalan terhadap suatu sensasi tidak secara langsung menghasilkan suatu pengetahuan, tetapi terlebih dahulu menghasilkan pemahaman terhadap struktur sensasi tersebut. Pemahaman terhadap struktur sensasi atau masalah itu akan memunculkan pengorganisasian kembali struktur sensasi itu ke dalam konteks yang baru dan lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami atau dipecahkan. Kemudian, akan terbentuk suatu pengetahuan baru.
Dalam kaitan dengan pembelajaran matematika, uraian di atas dapat diperjelas dengan ilustrasi berikut. Andaikan seorang guru meminta siswanya untuk menentukan jumlah n suku bilangan asli yang pertama yaitu 1 + 2 + 3 + … + n.. Menurut pandangan gestalt, agar siswa dapat menjawab dengan benar ia harus memahami struktur masalah tersebut. Untuk mengarahkan siswa pada pengenalan struktur masalah yang akan diselesaikan, guru dapat membantunya dengan memberikan masalah yang lebih sederhana yaitu jumlah 10 suku bilangan asli yang pertama yaitu 1 + 2 + 3 + … + 10. Dengan demikian, diharapkan siswa dengan mudah dapat melihat strukturnya yaitu 10 + 1 = 9 + 2 = 8 + 3 = 7 +4 = 6 +5. Sehingga 1 + 2 + 3 + … + 10 = (10 + 1) + (9 + 2) + (8 + 3) + (7 + 4) + (6 +5) = 11 + 11 + 11 + 11 +11 = 5 x 11 = 10/2 x (10 +1). Akhirnya, siswa akan menemukan bahwa 1 + 2 + 3 + … + n = (n + 1) + (n-1 + 2) + (n-2 + 3) + … + ((n - n + 1) + n) = n (n +1).
Guru-guru matematika yang menganut pandangan gestal ini, akan mendesain proses pembelajaran matematika sedemikian rupa sehingga anak dapat belajar matematika dengan pengertian yaitu didasarkan pada pengorganisasian komponen-komponen materi yang akan dipelajari dan berhubungan secara terstruktur. Berarti kegiatan pembelajaran lebih berpusat pada murid. Tujuan pembelajaran lebih beorientasi pada proses dibandingkan dengan hasil akhir. Pendekatan pembelajaran matematika yang dapat memenuhi pandangan gestaltist ini adalah penemuan (reinvent/discovery) atau dengan pemecahan masalah.
2. Teori Belajar Bruner
Jerome S. Bruner adalah ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar kognitif. Beruner mengembangkan suatu teori belajr yagn sistematik. Yang penting baginya ialag cara-cara bagaimana orang memilih, mempertahankan, dan mentransformasi informasi secara aktif, dan inilah menurut Bruner inti dari belajar. Sehingga pusat perhatian Bruner adalah masalah apa yang dilakukan manusia dengan informasi yang diterimanya, dan apa yagn dilakukannya sesudah memperoleh informasi untuk mencapai pemahaman yagn memberikan kemampuan kepadanya.
2.1. Aplikasi teori Bruner dalam pembelajaran matematika
Penerapan teori belajar Bruner dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan
1. Sajikan contoh dan bukan comtoh dari konsep-konsep yang anda ajarkan missal: untuk contoh mau mengajarkan bentuk bangun datar segiempat, sedangkan bukan contoh adalah berikan bangun datar segitiga, segilima atau lingkaran.
2. Bantu siswa belajar untuk melihat adanya hubungan antara konsep-konsep, misalnya berikan pertanyaan kepada siswa seperti berikut “ apakah nama bentuk ubin yang sering digunakan untk menutupi lantai rumah? Berapa cm ukuran ubin-ubin yang dapat digunakan?
3. Berikan satu pertanyaan dan biarkan siswa untuk mencari jawabannya sendiri. Misalnya jelaskan cirri-ciri/sifat-sifat dari ubin tersebut ?
4. Ajak dan beri semangat siswa untuk memberikan pendapat berdasarkan intuisinya. Jangan diberi komentar terlebih dahulu atas jawaban siswa, kemudian gunkan pertanyaan yagn dapat memandu siswa untuk berpikir dan mencari jawaban yagn sebenarnya
Berikut contoh penerpan teori Bruner bahwa proses belajar siswa melewati 3 tahap yaitu:
Pembelajaran menemukan rumus luas daerah persegi panjang.
1. Tahap enaktif
Dalam tahap ini siswa secara langsung terlibat dalam manipulasi objek.
(a)
(b)
( c)
Untuk gambar (a) ukuranya panjang = 8 satuan
Lebarnya = 1 satuan
Untuk gambar (b) ukuranya panjang = 5 satuan
Lebarnya = 2 satuan
Untuk gambar ( c) ukuranya panjang = 5 satuan
Lebarnya = 3 satuan
2. Tahap ikonik
Dalam tahap ini kegiatan yang dilakukan siswa berhubungan dengan mental, yang merupakan gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya. Anak tidak langsung memanupulasi objek seperti yang dilakukan siswa dalam tahap enaktif.
No
Gambar persegi panjang
Luas yagn dihitung dari membilang banyak satuan persegi (l)
Banyak satuan ukuran panjang (p)
Banyak ukuran satuan lebar (l)
Hubungan antara satuan panjang dengan satuan lebar
1
……….
……….
……….
……….
2.
……….
……….
……….
……….
3
……….
……….
……….
……….
4.
……….
……….
……….
……….
3. Tahap simbolik
Dalam tahap ini siswa memanupulasi symbol-silbol atau lambang-lambang objek tertentu. Anak tidak lagi terikat objek-objek pada tahap sebelumnya. Anak pada tahap ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap objek real.
Siswa diminta untuk megeneralisasikan untukmenemukan rumus luas daerah persegi panjang. Jika simbolis ukura panjang p, ukuran lebarnya l. dan luas daerah persegi panjang L
l
P
Maka jawabanya yang diharapkan L = p x l satuan jadi luas persegi panjang adalah ukuran panjang dikalikan dengan ukuran lebar.
Dari hasil pengamatan Bruner dilapangan diperoleh kesimpulan yang melahirkan dalil-dalil. Diantaranya dalil penyususunan (construction theorema), dalil notasi(notation theorema), dalil kekonstrasan dalil keanekaragaman (contras and variation theorema), dan dalil pengaitan (connectivity theorema).
a). Dalil penyusunan
Dalil ini menyatakan bahwa, siswa selalu ingin mempunyai kemampuan dalam hal menguasai konsep, teorema, defenisi dan semacamnya. Untuk itu siswa dilatih utnuk melakukan penyusunan representasinya. Untuk melekatkan ide atau defenisi tertentu dalam pemikiran siswa, harus menguasai konsep dengan mencobanya dan melakukanya sendiri. Dengan demikian, konsep yang dilakukan dengan jalan memperlihatkan representasi konsep tersebut, maka siswa akan lebih memahami.
Apabila dalam proses perumusan dan penyusunan ide-ide tersebut disertai bantuan benda-benda konkret, maka siswa akan lebih mudah mengigat ide-ide yang dipelajarinya. Dalam tahap ini siswa akan memperoleh penguatan yang diakibatkan interaksinya dengan benda-benda konkret yang dimanipulasinya. Memori seperti ini bukan sebagai akibat penguatan. Dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya dalam tahap awal pemahaman konsep diperlukan aktivitas-aktivitas konkret yang mengantar siswa kepada pengertian konsep.
Anak yang mempelajari konsep perkalian yang didasarkan pada prinsip penjumlahan berulang , akan lebih memahami konsep tersebut, jika siswa tersebut mencoba sendiri menggunakan garis bilangan untuk memperlihatkan proses perkalian tersebut. Sebagi contoh, untuk memperhatikan konsep perkalian, kita ambil 3 x 5. ini berarti pada garis bilangan meloncat 3 x dengan loncatan 5 satuan. Hasil loncatan tersebut diperiksa. Ternyata hasilnya 15. dengan mengulangi percobaan seperti ini siswa akan benar-benar memahami bahwa perkalian pada dasarnya merupakan penjumlahan berulang.
b). Dalil Notasi
Dalil notasi mengungkapkan bahwa dalam penyajian konsep, notasi memegang peranan penting. Notasi yang digunakan dalam menyatakan sebuah konsep tertentu harus disesuaikan dengan tahap perkembangan mental siswa. Sebagi contoh notasi untuk menyatakan fungsi
F(x) = 3x – 2
Kita menggunakan notasi
0 = (3 x ∆) – 2
Bagi siswa yang mempelajari konsep fungsi lebih lanjut diberikan notasi fungsi
{(x,y)y = 3x – 2 , x y ε R}
Notasi yang diberikan tahap demi tahap ini sifatnya berurutan dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit. Penyajian seperti ini dalam matematika merupakan pendekatan spiral. Dalam pendekatan spiral setiap ide matematika disajikan secara sistematik dengan menggunakan notasi-notasi yang bertingkat. Pada tahap awal notasi ini sederhana, diikuti dengan notasi berikutnya yang lebih kompleks. Notasi yang terakhir, yang mungkin belum dikenal sebelumnya oleh siswa, umumnya merupakan notasi yang akan banyak digunakan dalam pengembangan konsep matematika selanjutnya.
c). Dalil pengkontrasan dan keanekaragaman
Dalam dalil ini dinyatakan bahwa pengontrasan dan keanekaragaman sangat penting dalam melakukan pegubahan konsep matematika dari konsep konkret ke konsep yang lebih abstrak. Diperlukan contoh-contoh yang bayak, sehingga siswa mampu mengetahui karakteristik konsep tersebut. Contoh yang diberikan harus sesuai dengan rumusan atau teorema yang diberikan tetapi tidak tertutup kemungkinan jika kita memberian juga contoh-contoh yang tidak memenuhi rumusan, sifat atau teorema dengan harapan agar siswa tidak mengalami salah pengertian terhadap konsep yang sedang dipelajari.
Konsep yang diterangkan dengan contoh dan bukan contoh adalah salah satu cara pengkontrasan. Melalui cara ini siswa akan mudah memahami arti dan karakteristik konsep yang diberikan tersebut. Sebagai contoh untuk menjelaskan pengertian persegi panjang, disertai juga kemungkinan jajaran genjang dan segi empat lainnya selain persegi panjang. Dengan demikian siswa dapat membedakan apakah segi empat yang diberikan padanya termasuk persegi panjang atau tidak.
Keanekaragaman juga membantu siswa dalam memahami konsep yang disajikan, dan hal ini dapat memberi
kanbelajar bermakna bagi siswa. Misalnya, unutuk memperjelas pengertian bilangan prima siswa perlu diberi contoh yang sifatnya beraneka ragam. Selain itu perlu juga diberikan contoh-contoh bilangan ganjil yang termasuk bilangan prima dan yang tidak. Kepada siswa harus diperhatikan bahwa tidak semua bilangan ganjil termasuk bilangan prima. Bilangan-bilngan seperti 9, 21 dan 51, mislanya, bukan bilangan prima , sebab ketiga bilangan tersebut dapat dibagi oleh bilangan lain selain bilangan itu sendiri dan oleh satu.
d). Dalil Pengaitan
Dalam dalil ini dinyatakan bahwa dalam matematika antara satu konsep dengan konsep lainnya terdapat hubungan yang erat, bukan saja dari segi isi, namun juga dari segi rumus-rumus yang digunakan materi yang satu mungkin merupakan prasyarat bagi yang lainya, atau suatu konsep tertentu diperlakukan untuk menjelaskan konsep lainya. Misalnya konsep Pythagoras diperlukan untuk menentukan tripel Pythagoras atau pembuktian rumus kuadratis dalam trigonometri.
Guru perlu mejelaskan bagaimana hubungan antara suatu yang sedang dijelaskan dengan objek atau rumus lain. Apakah hubungan itu dalam kesamaan rumus yang digunakan, sama-sama dapat digunakan dalam bidang aplikasi atau dalam hal-hal lainya. Melalui cara ini siswa akan mengetahui pentingnya konsep yang seang dipelajari dan memahami bagaimana kedudkan rumus atau ide yang sedang dipelajarinya itu dalam matematika. Siswa perlu menyadari bagaimana hubungantersebut, karena antara sebuah bahasan dengan bahasan matematika lainya saling berkaitan.
3. Teori Belajar Piaget
Dalam perkembangan intelektual ada tiga aspek yang diteliti Piaget, yaitu struktur, isi dan fungsi.
1. Aspek Struktur
Untuk sampai pada pengertian struktur diperlukan suatu pengertian yang erat hubungannya dengan struktur, yaitu pengertian operasi. Piaget berpendapat bahwa ada hubungan fungsional antara tindakan fisik, tindakan mental, dan perkembangan berpikir logis anak-anak. Operasi mempunyai 4 ciri yaitu yang pertama operasi merupakan tindakan yang terinternalisasi, ini berarti tindakan itu baik merupakan tindakan mental maupun tindakan fisik, tanpa ada garis pemisah antara keduanya.kedua operasi bersifat reversible. Misalnya menambahkan dan menguragi merupakan operasi yang sama yang dilakukan dengan arah yang berlawanan: 2 dapat ditambah 1 untuk memperoleh 3; atau 1 dapat dikurangi dari 3 untuk memperoleh 2. ketiga operasi itu selalu tatap, walaupun selalu terjadi taranspormasi atau perubahan. Dalam proses penambahan misalnya, pasangan bilagnan dapat dikelompokkan dengan berbagai cara (5 – 1, 4 2, 3 – 3) tetapi jumlahnya tetap.keempat tidak ada operasi yang berdiri sendiri. Suatu operasi
kanberhubungan dengan struktur atau sekumpulan operasi, misalnya operasi pengurangan-penjumlahan berhubungan dengan operasi klasifikasi.
2. Aspek isi
Aspek isi adalah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respon yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya.
3. Aspek Fungsi
Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk menbuat kemajuan intelektual.
Menurut piaget, setiap individu mengalami tingkat-tingkat perkembangan intelektual sebagai berikut
1. Sensori motor (0-2 tahun)
2. Pra-operasional (2 – 7 tahun)
3. Operasional konkret ( 7 – 11 tahun)
4. Operasional formal ( 11 tahun keatas)
1. Sensori motor (0-2 tahun)
Tingkat sesori motor menempati dua tahun pertama dalam kehidupan. Selama priode ini anak mengatur alamnya dengan indera-indera (sensori) dan tindakan-tindakan (motor). Selama priode ini bayi tidak mempunyai konsepsi “object permanence”.
2. Pra- operasional (2 - 7 tahun)
Pada priode ini anak belum mampu melaksanakan operasi-operasi mental, seperti menambah dan mengurang. Tingkat operasional ini terdiri dari dua sub-tingkat sub- tingkat yang pertama 2 -4 tahun yang disebut sub-tingkat pra-logis, sub-tingkat yang kedua ialah antara 4 – 7 tahun yang disebut tingkat intuitif.
Pra-operasional lebih memfokuskan diri pada aspek statis tentang suatu peristiwa daripada transformasi dari suatu keadaan kepada keadaan lain, sebagai contoh pada anak diperlihatkan contoh dua buah bola dari lilin yang sama besar. Kemudian bola yang satu diubah mejadi sosis. Lalu ditanyakan kepada si anak itu “masih samakah?” anak itu menjawab, bahwa yang berbentuk sosis lebih besar. Dalam percakapan ini anak itu mempertahankan lilin dan mengabaikan transformasi, yaitu perubahan dari bentuk bulat (bola) kebentuk sosis.
3. Operasional konkret ( 7 – 11 tahun)
Pada tingkat ini permulaan berpikir rasional. Ini berati anak memiliki operasi-operasi logis yang dapat diterapkannya pada masalah-masalah konkret. Bila menghadapi suatu pertetangan antara pikiran dan persepsi, anak dalam priode operasional konkret memilih pengambilan keputusan logis, dan bukan keputusan konseptual seperti anak pra-operasional. Operasi-operasi penting yang dilakukan antara lain :
a. Kombinavitas atau klasifikasi adalah suatu operasional yang menggabungkan dua atau lebih kelas menjadi kelompok yang lebih besar: semua anak laki-laki + semua anak perempuan = semua anak. Hubungan seperti A > B dan B > C dapat digabungkan menjadi hubungan baru A > C. untuk pertama kalinya anak dapat membentuk berbagai hubungan-hubungan kelas, dan bahwa beberapa kelas dapat dimasukkan kedalam kelas-kelas yang lain.
b. Reversibilitas merupakan kriteria utama dalam berpikir operasional dalam system Piaget, ini berati, bahwa setiap operasi logis atau matematis dapat ditiadakan dengan operasi yang berlawanan. Semua anak – semua anak perempuan = semua anak laki-laki atau 7 + 3 = 10 dan 10 – 7 = 3.
c. Asosiativitas merupakan operasi pengabungan kelas-kelas dalam urutan apa saja: (1 + 3 ) + 5 = 1 + (3+5). Dalam penalaran, operasi ini mengizinkan anak sampai pada jawaban melalui banyak cara.
d. Identitas ialah operasi dimana terdapat suatu unsure nol yang, bila digabungkan dengan unsure atau kelas manapun , tidak menghasilkan perubahan: 10 + 0 = 10. demikian pula suatu kuantitas dapat dinolkan dengan mengabungkan lawanya : 10 – 0 = 0, atau jika saya berjalan ke timur 3 km, dan kebarat 3 km, saya akan berakhir ditempat saya berangkat.
4. Tingkat Operasional Formal 11 tahun keatas)
Pada priode ini anak dapat menggunakan operasi-operasi konkretnya untuk membentuk operasi-operasi yang lebih kompleks. Kemajuan utama anak pada priode ini ialah bahwa tidak perlu berpikir dengan pertolongan benda- benda atau peristiwa-peristiwa konkret, anak mempunyai kemampuan berpikir abstrak.contoh: umur Ani 2 kali lebih besar dari umur Glorista. Sedangkan umur Budi dikurng umur Glorista = 5 tahun. Jika umur Ani pada saat ini adalah 20 tahun berapakah umur Glorista dan Budi.
Jawab :
Misal : umur Ani = x, Umur glorista = y, Umur Budi = z
maka : y = 2 x
z – y = 5
x = 20
y = 2. 20
= 40
Z – y = 5
Z = 40 + 5
Z = 45.
DAFTAR PUSTAKA
Rana Wilis Dahar, 1989. teori-teori belajar. Penerbit Erlangga
Jakarta
Wina Sanjaya , 2006. Stategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan,kencana prenada media gropu.
Jakarta.
www.geocities.com/no_vyant/SEM_2_2/Inisiasi_Pengembangan_Matematika
diakses tanggal 3 Desember 2007.
www. akhmadsudrajat.wordpress.com/konseling/ diakses tanggal 30 November 2007
www.e-psikologi.com/lain-lain/tokoh diakses tanggal 30 November 2007

No comments:

Post a Comment

Kritik dan Saran